Showing posts with label Kimia Dasar. Show all posts
Showing posts with label Kimia Dasar. Show all posts

Tuesday, 13 December 2011

Konsep Reaksi Redoks

Konsep reaksi redoks mengalami perkembangan sebagai berikut:

a. Konsep Klasik

Menurut konsep klasik, oksidasi adalah reaksi pengakapan oksigen sedang reduksi adalah proses pelepasan oksigen atau penangkapan hidrogen.

Atas dasar konsep ini jika dinyatakan bahwa seng mengalami oksidasi, berarti seng bereaksi dengan oksigen membentuk seng oksida dan reaksinya ditulis:

2Zn + O2 ® 2ZnO

b. Konsep bilangan Oksidasi

Pada perkembangan berikutnya orang mengenal konsep bilangan oksidasi. Sekarang marilah kita perhatikan reaksi oksidasi seng di atas dan kita terapkan konsep bilangan oksidasi atas reaksi tersebut:

2Zn + O2 ® 2ZnO

Bilangan oksidasi seng di ruas kiri = 0

Bilangan oksidasi seng di ruas kakan = +2

Jadi bilangan oksidasi seng naik.

Dari konsep awal bahwa pada reaksi tersebut seng mengalami oksidasi digabung dengan fakta bahwa bilangan oksidasi seng naik, maka dapat disimpulkan bahwa oksidasi adalah reaksi yang disertai naiknya bilangan oksidasi. Dengan pola pikir yang sama definisi reduksi adalah proses atau reaksi yang disertai dengan penurunan bilangan oksidasi.

c. Konsep elektron

Selanjutnya marilah kita lihat reaksi pelepasan elektron dari atom Na berikut:

Na ® Na+ + e

Jika kita amati bilangan oksidasinya dapat diketahui bahwa bilangan oksidasi Na di ruas kiri = 0 sedang di ruas kanan = +1. Jadi ternyata, reaksi pelepasan elektron disertai naiknya bilangan oksidasi, padahal telah diketahui bahwa naiknya bilangan oksidasi adalah peristiwa oksidasi. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa oksidasi adalah peristiwa pelepasan elektron.

Dengan pola pikir yang sama, dapat dipasikan bahwa reduksi adalah peristiwa penangkapan elektron.

d. Oksidator dan reduktor

Dikenal istilah oksidator dan reduktor, yaitu sebagai berikut:

Zat yang mengalami reduksi disebut oksidator

Zat yang mengalami oksidasi disebut reduktor

Dalam konsep klasik oksidator adalah zat melepas oksigen sedang rekduktor adalah zat yang menangkap oksigen.

Dalam konsep bilangan oksidasi oksidator adalah zat biloknya turun sedang rekduktor adalah zat yang biloknya naik.

Dalam konsep elektron oksidator adalah zat menangkap elektron sedang rekduktor adalah zat yang melepas elektron

Contoh Soal:

Dengan menggunakan konsep bilangan oksidasi, tentukan oksidator dan reduktor dari reaksi berikut:

Al + HCl ® AlCl3 + H2

Jawab:

Kita cari bilangan oksidasi masing-masing unsur peserta reaksi:

Bilok Al kiri = 0 kanan = +3

Bilok H kiri = +1 kanan = 0

Bilok Cl kiri = -1 kanan = -1

Jadi:

Yang biloknya turun atau oksidator adalah HCl

Yang biloknya naik atau reduktor adalah Al

Sunday, 11 December 2011

Ikatan Logam

Ikatan Logam

Ikatan logam adalah ikatan yang mungkin terbentuk antaratom logam. Ikatan logam mempunyai ciri khas tersendiri yang berbeda dengan ikatan ion dan yang lain.

Atom logam cenderung melepaskan elektron bermuatan positif. Antarato logam dapat saling berikatan akibat gaya tarik menarik antara ion logam bermuatan positif dengan elektron valensi yang bermuatan negatif. Elektron elektron valensi tersebut dapat bergerak bebas di sela sela ruang antaratom dan membentuk suatu lautan elektron. Jadi, kristal logam terdiri atas kumpulan ion logam bermuatan positif di dalam lautan elektron yang mudah bergerak.

Susunan atom dalam logam

Berdasarkan hasil penelitian menggunakan Sinar X, logam logam dalam bentuk padatan mempunyai struktur lattice. Ahli kimia membayangkan struktur lattice tersusun atas tumpuan atom atau logam yang tersusun terjejal. Susunan atom atom dalam logam dapat diibaratkan tumpukan buah buahan. Ada 3 kemungkinan susunan atom atom dalam padatan logam. Susunan tersebut adalah

a. Body centered cubic (BCC)

b. Face centered cubic (FCC)

c. Hexagonal close packed

Model penyusunan atom atom dalam padatan logam dapat menjelaskan ikatan logam yang terbentuk dan sifat sifat logam.

SIfat Sifat Logam

Logam mempunyai beberapa sifat diantaranya :

1. Umumnya bersifat keras

2. Mempunyai titik didih dan titik leleh yang tinggi

3. Merupakan konduktor dan isolator yang baik

4. Permukaanya mengkilap

Gaya tarik menarik yang terjadi antara kation logam dan elektron valensi cukup kuat. Untuk memutuskan ikatan tersebut dibutuhkan energi yang sangat besar. Itulah yang menyebabkan titik didih dan titik leleh suatu Logam sangat tinggi.

Suatu logam dapat mengkilap karena cahaya yang megenai permukaan logam dapat dipantulkan oleh elektron. Suatu logam dapat juga menghantarkan listrik karena saat arus listrik dialirkan ke logam, elektron akan berpindah sekaligus menghantarkan listrik dari kutub negatif ke kutub positif. Logam dapat menghantarkan panas karena energi panas menyebabkan elektron bergerak lebih cepat serta tumbukan antara elektron dan proton semakin banyak sehingga menghasilkan panas.

Beberapa logam juga memiliki sifat dapat ditempa (malleable) dan diukur (ductille) tanpa harus menghancurkannya lebih dahulu. Logam logam yang dapat ditempa diantaranya adalah alumunium, tembaga, timbel, emas, dan perak. Adapu logam yang dapat diulur adalah nikel, krom dan besi.

Pada saat ditempa logam dapat melunak karena pada saat logam dikenakan energi, susunan atom logam tidak berubah, meskipun posisi atom berubah namun ion logam tetap berikatan dengan elektron. Hal ini menyebabkan logam dapat ditempa dan diulur.

Ikatan Kovalen Raksasa

Senyawa Kovalen Raksasa

Senyawa Kovalen raksasa adalah senyawa kovalen yang memiliki struktur molekul cukup besar. Sifat senyawa kovalen raksasa sangat dipengaruhi oleh struktur molekulnya. Senyawa ini memiliki titik didih dan titik leleh yang sangat tinggi,sedangkan daya hantar dan kekerasanya sangat bervariasi.

Contoh dari senyawa kovalen raksasa adalah gravit, intan dan silikon. Ikatan kovalen yang terbentuk pada senyawa senyawa ini sangat kiat sehingga intan dan silikon mempunyai sifat keras (grafit tetap rapuh). Sifat intan yang keras dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, misalnya alat bor dalam pertambangan minyak dan pemoting batu atau kaca.

Pada saat dipanaskan, diperlukan energi yang sangat besar untuk memutuskan ikatan kovalen raksasa yang sangat kuat. Faktor inilah yang menyebabkan titik didih dan titik leleh senyawa kovalen raksasa sangat besar.Intan dan silikon sama sama tidak dapat menghantarkan arus listrik karena seluruh atomnya tidak memiliki elektron bebas.Adapun pada grafit, hanya 3 elektron valensi yang berikatan dan struktur yang terbentuk berupa lapisan lapisan. Satu elektron valensi lagi digunakan untuk menghubungkan antar lapisan. Elektron elektron dapat bergerak bebas dalam lorong lorong diantara lapisan sehingga dapat menghantarkan arus listrik. Struktur grafit tersebut juga menyebabkan grafit bersifat rapuh karena ikatan antar lapisan yang sangat lemah sehingga mudah bergeser jika dikenakan suatu gaya.

Molekul

Titik didih (°C)

Titik leleh (°C)

Keisolatoran

Kekerasan

Intan

Grafit

Silikon

4.830

4.200

2.230

3.550

-

1.500

Tidak dapat

Dapat

Tidak dapat

Sangat keras

Lunak,mudah rapuh

Sangat keras

Berdasarkan pada data diatas dapat diketahui bahwa titik didih dan titik leleh molekul kovalen raksasa lebih tinggi daripada molekul kovalen sederhana. Adapun sifat lainya ada yang sama dan ada pula yang berbeda. Hal tersebut dapat terjadi karena perbedaan struktur kimianya.

Ikatan Kovalen

Ikatan Kovalen

Ikatan kovalen adalah ikatan yang terbentuk akibat adanya pemakaian bersama pasangan elektron.Ikatan yang terbentuk distabilkan oleh gaya tarik menarik antara elektron dan inti atom serta gaya tolak menolak antar inti atom.

Pembentukan Ikatan Kovalen

Umumnya ikatan kovalen dibentuk oleh atom atom nonlogam.Jika atom atom yang berikatan kovalen berasal dari atom sejenis, maka dinamakan molekul unsur. Dan molekul yang terbentuk dari ikatan kovalen atas atom atom yang berbeda dinamakan molekul senyawa.

Pembentukan ikatan kovalen tunggal

Ikatan kovalen tunggal merupakan ikatan kovalen yang melibatkan pemakaian bersama satu pasang elektron yang saling berikatan.Contohnya adalah ikatan dalam Cl2. Agar stabil atom Cl memerlukan 1 elektron tambahan. Cl2 tidak mungkin membentuk ikatan ion karena kemampuan kedua atom Cl untuk menarik dan melepas elektron sama. Oleh karena itu setiap atom Cl menyumbangkan 1 elektronnya untuk digunakan bersama sama untuk memenuhi hukum oktet.

Begitu juga dengan atom H2. Atom H memiliki 1 elektron.Untuk mencapai kesetabilanya atom H memerlukan 1 elektron tambahan. Setiap atom H menyumbungkan 1 elektron untuk digunakan bersama sama sehingga memenuhi hukum duplet. Pada pembentukan H2 pasangan elektron ikatanya berjumlah 1. Dengan demikian molekul H2 berikatan tunggal.

Pasangan elektron yang digunakan bersama disebut pasangan elektron ikatan, sedangkan pasangan elektron yang tidak digunakan bersama-sama disebut pasangan elektron bebas. Pada pembentukan H2, pasangan elektron ikatanya berjumlah 1 sehingga ikatan kovalen yang terbentuk dilambangkan dengan garis tunggal (-).

Pembentukan Ikatan Kovalen rangkap

Ikatan kovalen rangkap merupakan ikatan kovalen yang melibatkan pemakaian bersama lebih dari 1 pasang elektron. Ada 2 jenis ikatan kovalen rangkap yaitu ikatan kovalen rangkap 2 dan ikatan kovalen rangkap 3. Ikatan kovalen rangkap 2 melibatkan pemakaian 2 pasang elektron bersama-sama oleh 2 atom yang saling berikatan. Ikatan kovalen rangkap 3 melibatkan pemakaian bersama 3 pasang elektron oleh 2 pasang atom yang berikatan.Contoh ikatan kovalen rangkap 2 yaitu pada O2.

Konfigurasi atom O: 2 6 . untuk mencapai kesetabilanya atom O memerlukan 2 elektron tambahan. Jika 2 atom O saling brikatan, maka setiap atom O akan menyumbangkan 2 elektron untuk digunakan bersama sama sehingga atom O memenuhi hukum oktet. Pada pembentukan O2 pasangan elektron ikatanya berjumlah 2 sehingga ikatan kovalen yang terbentuk dilambangkan dengan garis rangkap dua.

Adapun untuk ikatan kovalen rangkap 3 contohnya pada N2. Konfigurasi atom N adalah 2 5. Untuk mencapai kesetabilanya, atom N memerlukan 3 elektron tambahan. Jika 2 atom N saling berikatan, maka setiap atom N akan menyumbangkan 3 elektron tambahan untuk digunakan bersama sama sehingga atom N memenuhi hukum oktet. Pada pembentukan N2, pasangan elektron ikatanya berjumlah 3 sehingga ikatan kovalen yang terbentuk dilambangkan dengan garis rangkap 3.

Sifat Sifat Senyawa Kovalen

Senyawa kovalen memiliki beberapa sifat, diantaranya :

1. Berwujud gas, cair, dan padat pada suhu kamar.

2. Mempunyai titik didih dan titik leleh yang rendah

3. Kebanyakan tidak bersifat isolator

4. Umumnya bersifat lunak

Molekul molekul kovalen dapat saling berikatan membentuk kumpulan molekul. Ikatan yang terputus pada saat senyawa kovalen sederhana dipanaskan adalah ikatan antarmolekul,bukan ikatan intermolekul (antar atom).Ikatan antarmolekul kovalen bersifat lemah sehingga untuk memutuskanya hanya diperlukan energi yang kecil. Oleh karena itu, titik didih dan titik leleh molekul dan senyawa kovalen sangat kecil.

Amatilah titik didih dan titik leleh beberapa senyawa kovalen berikut :

Senyawa Kovalen

Titik didih (°C)

Titik Leleh (°C)

H2O

CH4


CCl4

100

-164

-22,9

0

-183

76,7

Ikatan antarmolekul yang lemah juga melibatkan pergerakan partikel partikel lebih bebas sehingga sebagian besar senyawa kovalen berwujud cair dan gas. Begitu juga dengan sifat senyawa kovalen sederhana yang bersifat lunak dan mudah rapuh, dikarenakan ikatan antarmolekul yang lemah sehingga susunan partikel senyawa kovalen yang berwujud padat mudah sekali bergeser.

Sebagian senyawa kovalen tidak dapat menghantarkan arus listrik. Senyawa kovalen tersusun atas molekul molekul (bukan ion) sehingga muatanya bersifat netral. Listrik hanya dapat dihantarkan oleh partikel partikel ion.

Keempat sifat senyawa kovalen yang diuraikan diatas berlaku untuk senyawa kovalen yang memiliki struktur molekul sederhana. Sementara itu senyawa kovalen yang memiliki struktur molekul raksasa memiliki sifat yang beda.


Ikatan Ion

Ikatan ion

Ikatan ion adalah ikatan yang terjadi akibat adanya serah terima elektron sehingga membentuk ion positif dan ion negatif yang konfigurasinya sama dengan gas mulia (oktet pada elektron valensinya).Ion positif dan ion negatif diikat oleh suatu gaya elektrostatik. Senyawa yang dihasilkan dinamakan senyawa ion.

Pembentukan Ikatan Ion

Umumnya ikatan ion terjadi antara atom logam yang cenderung melepaskan elektron dengan atom nonlogam yang cenderung menerima elektron. Contohnya,ikatan yang terjadi antara atom Na dan Cl.

Na+ + Cl- → NaCl

Dalam mencapai ksetabilanya ,atom Na akan melepaskan 1 elektron sehingga membentuk ion positif Na+ , sedangkan atom Cl akan menerima 1 elektron sehingga membentuk ion negatif Cl-. Jika Na dan Cl berikatan, keduanya akan melakukan serah terima atau perpindahan elektron. Na akan memberi 1 elektron kepada Cl dan Cl menerima 1 elektron dari Na.

Contoh ikatan lainya adalah ikatan yang terjadi antara atom Mg dengan atom Cl.

Mg2+ + 2Cl- → MgCl2

Konfigurasi elektron atom Mg: 2 8 2. Agar stabil, atom Mg melepaskan 2 elektron sehingga membentuk ion positif Mg2+ . Konfigurasi elektron atom Cl yaitu 2 8 7. Agar stabil Cl harus menerima 1 elektron sehingga membentuk ion negatif Cl- . Jika Mg dan Cl berikatan maka dia akan melakukan serah terima elektron .Pada reaksi tersebut diperlukan 1 atom Mg dan 2 atom Cl. Mg akan memberi 2 elektron yang dibebaskanya masing masing pada Cl. Dan masing masing atom Cl akan menerima 1 elektron dari Mg.

Pada ikatan ion, total elektron yang dilepaskan harus sama dengan total elektron yang diterima.

Sifat Sifat Senyawa Ion

Senyawa ion memiliki beberapa sifat, diantaranya :

a. Berwujud pada pada suhu kamar

b. Titik didih dan titik leleh tinggi

c. Dapat menghantarkan listrik dalam bentuk cairan atau lelehan

d. Keras namun mudah rapuh.

Pada ikatan ion terjadi gaya tarik menarik (elektrostatik) antara kation dan anion. Tarik menarik antara muatan ion yang berlawanan tidak berhenti sampai terbentuknya sepasang ikatan ion,tetapi sampai pada terbentuknya struktur kristal.

Struktur Kristal senyawa ion yang terbentuk mempengaruhi sifat fisika senyawanya. Struktur kristal itu tersusun atas jutaan ion Na+, dan Cl-. Setiap ion Na+ mengikat 6 ion Cl-.Begitu juga ion Cl- yang dapat mengikat 6 ion Na+. Gaya tarik menarik antar ion sangat kuat sehingga posisi ion ion tidak mudah berubah dan diperlikan energi yang cukup besar untuk memutuskan ikatan ionnya. Hal itu yang menyebabkan garam berwujud kristal padat, serta mempunyai titik didih dan titik leleh yang tinggi. Amati titik didih dan titik leleh senyawa berikut.

Tabel titik didih dan titik leleh beberapa senyawa ion

Senyawa

Titik Didih (°C )

Titik Leleh (°C )

NaI

MgCl2

KBr

CaCl2

NaCl

LiF

KF

MgO

661

714

734

782

801

845

858

2852

1304

1412

1435

1600

1413

1676

1505

3600

Sifat senyawa ion yang dapat menghantarkan arus listrik dikarenakan dalam bentuk cairan atau lelehan, ion ionya dapat bergerak bebas sehingga dapat menghantarkan arus listrik, sedangkan dalam wujud padat senyawa ion tidak dapat menghantarkan arus listrik karena ion ionya tidak dapat bergerak bebas.

Mengapa Senyawa Ion mudah rapuh?

Posisi ion Na+ dan Cl- berselang seling untuk memaksimalkan daya tarik antarion.Pada saat garam dikenakan suatu energi, misalnya dipukul menggunakan palu lapisan yang terkena pukulan akan bergeser, sehingga ion ion yang bermuatan sama akan saling menolak. Tolak menolak antarion itulah yang menyebabkan kekuatan ikatan ion berkurang sehingga garam dapur dan senyawa ion lainya bersifat rapuh. Contoh senyawa ion yang dapat kita jumpai dalam kehidupan kita sehari hari adalah grafit (pensil) dan kaca.

Saturday, 10 December 2011

Perkembangan Tabel Periodik Unsur


a. Tabel Periodik Mendeleev

Mendellev menemukan jika usur disusun menurut massa atom yang meningkat, maka unsur

dengan sifat sifat yang sama akan tersusun secara periodik. Mendeleev mereaksikan beberapa unsur dengan gas klor. Hasilnya adalah senyawa yang larut dalam air , dengan rumus MCl. Fakta yang sama ditunjukkan oleh unsur Be, Mg, Ca, dan Sr yang membentuk senyawa BeCl2, MgCl2, CaCl2 dan SrCl2

Mengacu pada sifat sifat unsur, Mendellev menyusun unsur unsur menggunakan kartu yang jumlahnya sama dengan jumlah unsur yang saat itu diketahui. Setiap kartu bertuliskan sifat sifat unsur dan berat atom. Ia menemukan pengulangan sifat unsur dalam daftar unsurnya. Mendellev mengelompokkan unsur unsur tersebut dalam beberapa baris. Unsur unsur yang terletak dalam kolom yang sama meiliki sifat mirip.

b. Tabel Periodik Meyer

Lothar meyer menyusun tabel periodik yang hampir mirip dengan tabel periodik yang disusun oleh Mendellev.Meyer menempatkan unsur unsur dengan valensi yang sama dalam satu kolom. Gagasan Meyer lebih sederhana dibandingkan tabel periodik Mendellev. Sayangnya meyer baru mempublikasikan pada tahun 1870.



c. Pengelompokan Unsur Cara Moseley

Pada Tahun 1909 dan 1911, Rutherford berhasil menemukan salah satu partikel dasar penyusun atom yaitu proton dan inti atom. Berdasarkan penemuan Rutherford, Henry Moseley meneliti spektrum sinar X dan hubunganya dengan jumlah muatan listrik menggunakan spektroskopi sinar X.Lalu memplotkan frekuensi sinar X dengan dan kenaikan nomor atom.Hasilnya berupa garis lurus yang menunjukkan hubungan antara nomor atom dan sifat atom secara periodik. Kemudian, Moseley menyusun unsur tersebut berdasarkan kenaikan nomor atom dalam bentuk tabel periodik.


d. Pengelompokan Unsur Cara Seaborg

Pada tahun 1940, Glenn Seaborg berhasil menemukan unsur transuranium yaitu unsur dengan nomor atom 94-102. Akan tetapi timbul masalah mengenai penempatan unsur unsur transuranium dalam tabel periodik.Masalah itu dapat terpecahkan dengan cara membuat baris baru sehingga tabel periodik Moseley berubah.Tabel ini disusun atas 7 periode dan 18 kolom.

Berdasarkan tabel periodik modern unsur unsur dikelompokkan kedalam golongan utanma (IA – VIII A) dan golongan transisi (IB - VIIIB)

Ada 2 baris unsur yang diletakkan tepat dinawah tabel.Unsur unsur itu dikenal dengan unsur transisi bagian dalam.Tabel inilah sampai saat ini yang dianggap paling benar dan sering kita kenal dengan tabel Sistim periodik Unsur.

Perkembangan Sistem Periodik Unsur

Perkembangan Sistem Periodik Unsur

1. Pengelompokan Unsur Cara Lavoisier

Seorang Ilmuan Kimia Perancis ,Antonie Lavoisier,

pada tahun 1869 mendefinisikan unsur sebagai zat yang tidak dapat diuraikan lagi menjadi zat yang lebih sederhana.Dituangkan pada bukunya yang berjudul Traite Elementaire de Chimie. Lavoisier membuat 33 unsur kimia dan dikelompokkan menjadi gas, nonlogam,logam dan tanah.

Pengelompokan Unsur Kimia menurut Lavoisier

Gas

NonLogam

Logam

Tanah

Cahaya

Oksigen

Nitrogen

Hidrogen

Kalor

Sulfur

Fosfor

Karbon

Asam Borak

Asam Florida

Asam Klorida

Antimon

Arsen

Kobalt

Timah

Mangan

Molibdenum

Emas

Timbel

Seng

Raksa

Bismut

Tembaga

Besi

Nikel

Perak

Tungsen

Platina

Kapur

Magnesia

Barit

Alumina

Silika

2. Pengelompokan Unsur Cara Dobreiner

1817,Ilmuan Jerman,Johann Wolfgang Doberiner membuat pengelompokan unsur kimia.Cara Dobreiner mengelompokkan unsur berbeda dengan cara Lavoisier.Doberiner mengelompokkan setiap 3 unsur kimia yang sifatnya mirip menjadi 1 kelompok (triad) berdasarkan kenaikan berat atomnya.Hukum ini dikenal dengan Hukum Triad Dobereiner.

Gb. Triad Dobereiner

Akan tetapi kelemahan hukum triad adalah sejak ditemukanya unsur baru.Banyak unsur yang sifatnya mirip tetapi jumlahnya lebih dari tiga.Namun usaha Dobereiner tidak sia sia juga, karena ia mempelopori penyusunan tabel periodik berdasarkan berat.

3. Pengelompokan Unsur Cara Chancourtois (Telluric Spiral de Chancourtois)

1862, Alexander Beguyer de Chancourtois mengelompokkan unsur unsur kimia berdasarkan berat atom. Unsur unsur kimia disusun membentuk spiral. Pada Triad Dobereiner, unsur unsur yang sifatnya mirip terletak pada kolom yang sama.Perbedaan berat atom unsur unsur yang mirip adalah 16.Misalnya, Lithium dan natrium.Secara matematika,penyusunan ketiga unsur kimia tersebut dapat dirumuskan dengan persamaan :

Berat atom = 7 + 16n

n = urutan unsur

4. Pengelompokan Unsur Cara Newlands (Hukum Oktaf)

John Alexander Reina Newlands adalah seorang kimiawan Inggris. Newlands dikenal karena idenya tentang pengelompokan unsur unsur kimia yang dikenal dengan nama teori oktaf.

Newlands mengelompokkan unsur unsur kimia berdasarkan berat atom. Newlands megelompokkan unsur unsur kimia berdasarkan kenaikan berat atom.Newlands menemukan hubungan antara sifat unsur dan kenaikan berat atom. Sifat sifat unsur akan berulang pada unsur kedelapan.Sehingga unsur kedelapan memiliki sifat yang sama dengan unsur pertama. Berikut adalah tabel periodik unsur kimia yang disusun newlands.

Penyusunan unsur unsur berdasarkan hukum Oktaf Newlands

Sebagai contoh,lithium (Li) unsur kedua akan memiliki kemiripan sifat dengan natrium (Na) unsur yang kesembilan.Adapun natrium memiliki kemiripan sifat dengan Kalium (K) unsur yang keenambelas.Perhatikan bahwa unsur unsur yang sifatnya mirip terulang setiap kelipatan 8.

Tidak semua unsur disusun berdasarkan kenaikan berat atom.Newlands menukar posisi Zn dan Y karena Y lebih mirip dengan Be.Demikian juga Ce/La dan Zr,U dan Sn,Te dan I, serta Tl, Pb, Th, Hg, Bi dan Os.

Kelemahan Hukum oktaf Newlands adalah berlaku untuk 17 unsur pertama yaitu hidrogen hingga kalsium.Selain itu hukum oktaf juga tidak menyediakan tempat untuk unsur unsur yang baru ditemukan.Namun demikian, upaya Nuewlands patut dihargai karena ia yang pertama kali menunjukkan bahwa unsur unsur kimia bersifat periodik.

Perkembangan tabel Periodik

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Online Project management